3/14/2017

Resensi FIlm Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)


Trio komedi Dono, Kasino, Indro amat melegenda dan sukses meninggalkan kesan mendalam bagi sebagian besar penikmatnya. Paduan humor slapstick dan celetukan-celetukan khas ketiganya diiringi cerita yang absurd luar biasa membuat banyak orang tertawa terbahak-bahak di masanya. Kenangan itu dibawa hingga beberapa generasi setelahnya. Generasi milenial banyak mengenal nyanyian khas warkop dan kehebohan dari barisan warkop angels. Anggy Umbara yang terkenal lewat penyutradaraannya di Comic 8 dan 3: Alif Lam Mim kembali mengangkat warkop ke layar perak dengan konsep yang menyerupai pendahulunya.
                                                                                                  
Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) adalah anggota CHIPS (Cara Hebat Ikut-ikutan Penganggulangan Sosial) yang sering gagal dan berbuat onar ketika menjalankan tugas hingga ketiga orang tersebut diperintah untuk menangani kasus pembegalan bersama Sophie (Hannah Al Rashid), anggota CHIPS cabang Prancis. Namun, mereka malah tertimpa sial dan wajib membayar denda 8 Miliar Rupiah.


Sejak pertama kali difilmkan, Warkop DKI terkenal berkat komedi ringan yang sanggup membuat manusia di berbagai kalangan tertawa oleh ulah mereka. Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss masih memakai formula komedi yang sama dibumbui sedikit penyesuaian agar tetap relevan dengan kondisi terkini. Bicara sembarangan, pria-pria mata keranjang, adegan saling tabrak dan jatuh-menjatuhkan mendominasi film yang dirilis tahun 2016 tersebut. Kehadiran Warkop Angels yang diperankan oleh Nikita Mirzani, Hannah Al Rashid dan aktris asal Malaysia, Fazura, mirip dengan angels terdahulu, minus bikini dan pakaian “membahayakan” lainnya. Akting ketiganya tetap menggoda mata lelaki, terutama lelaki seperti musisi yang kalah di pemilihan bupati bekasi atau pengusaha kebab nasional yang hobi main perempuan hingga dipolisikan oleh mantan istrinya. Saya yakin, hanya pria penyuka sesama jenis atau pria setengah wanita yang tidak tertarik dengan penampilan Ketiga angels itu.

Menonton Warkop Reborn sama seperti menonton kekacauan negeri ini. Namun, kekacauan yang ditampilkan lebih lucu dan menarik dari kekacauan yang diakibatkan oleh seorang pemimpin dari Solo yang memiliki anak penjual martabak. Adegan kejar-kejaran, manusia yang terlempar dari kendaraan, hingga adegan perkelahian, semuanya terlihat kacau, dalam makna positif. Jauh berbeda dengan ribut-ribut antar ormas, konstitusi yang tak dipedulikan oleh Mendagri, pemimpin yang hobi bicara sembarangan, sampai jumlah jomblo yang meningkat tajam. Masalah-masalah di atas merupakan bukti gagalnya suami dari Iriana dalam menghadirkan kekacauan yang memusingkan kepala. Tampaknya dia harus belajar dari Dono, Kasino dan Indro.


Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian dan Tora Sudiro memberi porsi akting yang pas dengan kejenakaan masing-masing tokoh. Keluguan Dono, nakalnya Kasino dan Indro yang ceroboh berpadu indah dalam make up yang menyerupai pemain aslinya puluhan tahun lalu. Salah satu kelemahan yang mengurangi rasa nyaman penonton adalah adegan-adegan komedi yang membanjiri Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!. Sebagian besar di antaranya memang berhasil mengocok perut, namun tak sedikit pula yang kurang mengena dan membuat penonton mengernyitkan dahi. Setali tiga uang dengan scene komedinya, adegan-adegan remake dari film warkop seperti IQ Jongkok, Setan Kredit dan Dongkrak Antik. Sebagian dari hasil pembuatan ulang itu terkesan dipaksakan dan kurang sesuai dengan plot. Meski ada beberapa yang berhasil, nyanyian kode Kasino salah satunya.

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Sukses memadukan humor Dono, Kasino, Indro dengan relevansi terhadap kondisi terkini. Sentuhan komedi sederhana tanpa mengajak penonton untuk berpikir rumit adalah salah satu kekuatan yang membuat Warkop DKI benar-benar reborn. Tidak seperti ideologi yang konon, akan terlahir kembali dan mengacaukan kehidupan bernegara melalui politisi bermulut kurang sedap. Sekurang sedap bau ketiak saya.
Tertawalah sebelum tertawa itu dianggap intoleran.



Share: 

1/05/2017

Resensi Film The Accountant (2016)


Setelah Batman vs Superman: Dawn of Justice, Ben Affleck hanya muncul di layar lebar sebagai cameo dalam Suicide Squad. The Accountant merupakan film kedua Affleck di tahun 2016 yang menampilkan dirinya sebagai tokoh utama. Bintang-bintang Hollywood seperti Anna Kendrick, J.K. Simmons dan Jeffrey Tambor turut serta dalam jajaran cast The Accountant. Kebintangan dan kualitas akting Ben Affleck serta aktor dan aktris populer yang terlibat dalam produksi film menjadikan The Accountant film thriller yang mencatat keuntungan besar dengan pemasukan USD 146 juta dari bujet USD 44 Juta.

Christian Wolff (Ben Affleck) merupakan seorang akuntan organisasi-organisasi kriminal tingkat tinggi yang mengidap autisme. Sebuah perusahaan teknologi meminta bantuan Wolff untuk megaudit keuangan mereka. Dalam perusahaan tersebut, Wolff bertemu akuntan perusahaan, Dana Cummings (Anna Kendrick). Dalam proses audit, nyawa orang-orang di sekitar Wolff terancam. Di sisi lain, agen pemerintah menginvestigasi keberadaan Wolff.


Tidak banyak hal berbeda yang ditawarkan oleh The Accountant dalam genre crime thriller. Selain autisme Christian Wolff, sebagian besar alur dan visualisasi film sudah jamak ditemui pada genre serupa. Penonton cukup sulit untuk terikat dalam cerita yang dipaparkan sepanjang 127 menit film berjalan. Plotnya seolah saling tindih tanpa ada yang menonjol. Kisah cinta antara Wolff dan Cummings kurang sukses menggali emosi penonton. Investigasi agen pemerintah yang diperankan oleh J.K. Simmons terkesan hanya sebagai pelengkap dan berlalu begitu saja. Pembunuhan yang dilakukan sekelompok kriminal misterius lebih mirip adegan pada film-film Steven Seagal beberapa tahun terakhir yang dipenuhi omong kosong tanpa makna dan ancaman-ancaman yang tidak menakutkan sama sekali, sama seperti ancaman UU ITE yang lembek dan kurang bertaji bagi para relawan media sosial calon kepala daerah yang membenci Islam.

Satu-satunya kesan baik yang membekas dari The Accountant  adalah akting Ben Affleck yang total memerankan pria autis yang amat detail, ahli bela diri dan menembak. Cara makan, menyetir, bahkan cara dia memejamkan mata sangat sesuai dengan kondisi autisme di dunia nyata. Saat dia bergulat dengan para pembunuh bayaran, saya teringat karakter Batman yang diperankannya. Ben Affleck di The Accountant adalah Batman dalam versi autis. Jika The Accountant diproduksi sekuelnya, mungkin  dia akan bertarung dengan Superman dan judulnya adalah The Accountant vs Superman: The Worst Movie Ever. Kualitas akting Ben Affleck memang sangat mumpuni. Berbeda dengan tersangka penodaan agama yang aktingnya terlihat dibuat-buat dan lebih buruk dari akting jajaran cast Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji, dan Anak Jalanan Naik Haji.



Ben Affleck kembali merilis film yang disutradarainya pada 25 Desember 2016 berjudul Live By Night. Semoga Ben Affleck dapat mengukir awal yang manis di tahun 2017, dan semoga para pemimpin yang suka bicara pedas, sering mengumbar air mata buaya dan pura-pura tidak bersalah bisa dihukum seberat-beratnya.


Share: 

10/29/2016

Resensi Film In a Valley of Violence (2016)


Setelah era John Wayne dan Clint Eastwood, genre film western semakin ditinggalkan. Tiap tahun, bisa dihitung dengan jari jumlah film western yang diproduksi dan ditayangkan pada layar lebar. The Revenant, The Hateful Eight dan Magnificent Seven adalah sebagian dari film western yang telah dirilis tahun 2016. Ti West, sutradara yang populer di bidang horror dan thriller, mencoba peruntungannya dalam genre western lewat In a Valley of Violence. Dibintangi oleh sederet aktor dan aktris kondang seperti John Travolta, Ethan Hawke, dan Taissa Farmiga serta diproduseri oleh Jason Blum yang pernah membidani beberapa film ternama seperti Paranormal Activity, Sinister, dan Insidious, ekspektasi penggemar berat film bertema koboi cukup tinggi untuk film berbujet cukup rendah ini.


Paul (Ethan Hawke) dan Anjingnya, Abbie, sedang mengembara menuju Meksiko. Di tengah perjalanan, keduanya bertemu dengan pastor mabuk (Burn Gorman) yang sedang meminta pertolongan. Sang pastor menunjukkan jalan ke meksiko melalui sebuah kota kecil bernama Denton. Sesampainya di Denton, Paul dan Abbie bertemu dengan Gilly (James Ransone), pria arogan yang juga anak dari Marshal Clyde Martin (John Travolta). Dalam masa singgahnya di Denton, Paul banyak dibantu oleh Mary-Anne (Taissa Farmiga), pengelola motel sekaligus calon adik ipar Gilly. Banyak masalah menimpa Paul dan Abbie akibat ulah Gilly dan kawan-kawannya.

Film-film western memang tidak mudah dieksplorasi dalam bidang penceritaan. Kehidupan keras dunia koboi, percintaan sang tokoh dengan perempuan di kota yang sama, duel pistol demi kehormatan, hingga karakter mabuk yang sering mendukung peredaran bir saat menjadi gubernur merupakan sebagian besar kisah yang melatarbelakangi sinema western. Latar tempat yang dipakai juga banyak memiliki kesamaan antara satu film dengan film lainnya. In a Valley of Violence berpotensi jatuh ke lubang kebosanan seperti hasil karya western yang lain. Untungnya, akting Ethan Hawke beserta para pemeran pendukung sukses menghidupkan suasana tegang sekaligus mengasyikkan. Sosok seorang Paul memang bukanlah protagonis tanpa cacat. Masa lalunya yang kelam dan kondisinya kini memaksa dia menjadi pria yang kasar dan tanpa ampun. John Travolta sebagai ayah yang menyayangi putranya namun terlalu memanjakan berpadu apik dengan karakter Paul, dan Gilly yang menyebalkan namun bodoh. Penokohan Gilly dalam In a Valley of Violence  mengingatkan saya pada sosok lelaki pengecut namun arogan yang suka menindas rakyat kecil dan menistakan agama lain. Sayangnya, Gilly bukan koboi dari pesisir Belitung.


Seperti beberapa film western terdahulu, In a Valley of Violence menambahkan bumbu komedi pada setiap aksinya. Tidak selalu berhasil, memang. Tapi, jika sekedar memancing tawa kecil, dialog-dialog jenaka dari Marshal, Paul, dan kawan-kawan Gilly cukup baik dalam menjalankan tugasnya. Kalimat-kalimat seperti “Tubby is not my real name, I’m Lawrence.” atau “ I will call you whatever you want, but please, stay out of the goddamn window.” membuat saya mengembangkan senyum dan sedikit tertawa. Komedi dalam  In a Valley of Violence agak mirip dengan canda dari calon gubernur petahana DKI 2017: tidak selalu lucu dan cukup menyebalkan bagi orang lain.


Patut disayangkan, In a Valley of Violence mengakhiri kisahnya terlalu klise. Adegan tembak-menembak di akhir cerita memang cukup menegangkan dan bisa dinikmati, namun setelah itu, tidak banyak perbedaan dengan sesama film koboi yang sudah-sudah. Endingnya mudah ditebak dan tidak memberikan kejutan bagi penonton. Semoga Pilkada DKI tahun 2017 memberikan kejutan yang menggembirakan bagi publik Jakarta. Bukan kejutan yang menyengsarakan, seperti terpilihnya incumbent untuk periode kedua, contohnya.


Share: 

8/04/2016

Resensi The Night of - Episode 1


Setelah berakhirnya True Detective musim kedua, HBO belum memproduksi serial detektif kelam nan realistis hingga kemunculan The Night of, sebuah miniseri yang dibintangi oleh Riz Ahmed dan John Turturro. Steve Zaillian dan Richard Price bertindak sebagai produser eksekutif, penulis skenario, sekaligus showrunner. Zaillian juga menyutradarai miniseri tersebut bersama dengan James Marsh yang pernah menyutradarai The Theory of Everything. Hasil karya Zaillian sebelumnya juga tak kalah apik. Sineas kelahiran California itu pernah menulis skenario pada film Moneyball,The Girl with the Dragon Tattoo, dan Exodus: Gods and Kings. Jajaran kru yang cukup berkualitas dan promo yang menarik membuat The Night of wajib mendapat perhatian dan pantas untuk ditonton (jika Anda memiliki waktu dan saluran HBO di rumah, atau mengunduh ilegal seperti kebanyakan penyuka film seperti saya dengan kondisi keuangan yang sangat mepet, jauh lebih mepet dari tempat parkir sepeda motor di mal ketika menjelang lebaran).

Nasir Khan (Riz Ahmed) hidup dalam keluarga muslim Pakistan di New York. Sang ayah, Salman Khan (Peyman Moaadi) adalah sopir taksi yang harus berbagi pendapatan dengan dua rekannya. Sang ibu, Safar Khan (Poorna Jagannathan) adalah pedagang kain di pasar. Hidup Naz-sapaan akrab Nasir Khan- berubah ketika dia bertemu Andrea Cornish (Sofia Black D’Elia) perempuan yang masuk ke taksi yang saat itu dikemudikan oleh Naz. Sosok Andrea yang nakal namun cantik dan sangat menarik membuat Naz menyetujui permintaan Andrea untuk bermalam di rumahnya. Nahas, dini hari saat Naz bangun, Andrea sudah tidak bernyawa dengan banyak tusukan di tubuh. Naz pun harus berurusan dengan Detektif Dennis Box (Bill Camp), polisi yang menangani kasus tersebut.


Penampilan Riz Ahmed yang sebelumnya pernah bermain di film Nightcrawler sukses mencuri perhatian. Karakter Naz yang canggung dengan emosi yang tidak stabil sangat cocok diperankan oleh Ahmed. Kecanggungan Naz mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, saya adalah bocah canggung namun banyak omong. Kombinasi kedua sifat tersebut membuat saya terlihat bodoh. Luar biasa bodoh. Kalau diingat kembali, mungkin saya adalah versi nyata Harry dan Lloyd dalam Dumb and Dumber.


Kemunculan John Turturro yang hanya sesaat pada episode pertama sedikit mengurangi intensitas cerita, tapi cukup membantu membangun plot untuk episode selanjutnya. Gerak tubuh, cara bicara, dan gaya busana John Stone, nama tokoh yang diperankan oleh Turturro, memiliki ciri khas tersendiri. Terutama kakinya yang mengidap penyakit aneh sehingga kakinya terlihat seperti kaki orang yang tidur di kebun tanpa obat nyamuk dan autan. Gaya bicaranya juga mirip pria mabuk yang baru kehilangan pekerjaannya akibat direshuffle oleh presiden.

Share: 

4/02/2016

Resensi Film Deadpool (2016)


Deadpool mencatatkan keuntungan yang luar biasa sejak penayangan perdananya pada 8 Februari 2016 di Paris. Sampai tanggal 24 Maret 2016, Deadpool meraih total pemasukan sebesar USD 735,6 juta dari budget yang “hanya” USD 58 juta. Promosi unik, ketampanan Ryan Reynolds, serta komiknya yang sangat dicintai oleh para penggemar merupakan beberapa faktor yang membuat Deadpool begitu sukses secara finansial. Bagaimana dengan kualitas filmnya?

Wade Winston Wilson (Ryan Reynolds) terjebak dalam keterpurukan akibat penyakit kanker yang dia derita. Vanessa (Morena Baccarin), kekasih Wilson,  yakin jika sang pacar akan segera sembuh. Wilson pun menerima tawaran dari orang yang tak dikenal demi kesembuhannya. Namun, ia tak bisa sembuh dengan mudah karena orang yang membantu Wilson, Francis alias Ajax (Ed Skrein), memiliki niat buruk yang berakibat fatal bagi Wilson. Kulit di sekujur tubuhnya rusak dan wajahnya menjadi buruk rupa. Wilson bertekad membalaskan dendamnya pada Ajax lewat identitas barunya sebagai Deadpool.


Tidak seperti kisah-kisah manusia super lainnya (kecuali Mario Teguh) yang menonjolkan sifat heroik, aksi pemberantasan kejahatan dan kostum-kostum ketat yang menampilkan otot yang terlampau besar, Deadpool lebih berfokus pada kehidupan seorang pria yang hancur dan usaha untuk membangun kembali hidupnya. Wilson alias Deadpool bahkan menyebut dirinya sebagai manusia super yang bukan pahlawan. Deadpool memang seorang pria biasa dengan kekuatan super yang memakai jam tangan bergambar tokoh kartun Adventure Time. Dia juga tidak pernah membayar taksi yang ditumpanginya. Wilson juga tetap tergoda saat melihat wanita cantik seperti Vanessa. Berbeda dengan Batman dan Superman ketika bertemu Wonder Woman tetap tidak tergoda dengan kecantikan dirinya.  Mungkin Batman dan Superman bukan lelaki normal.

Alur maju-mundur yang dibangun oleh Tim Miller pada debut penyutradaraannya ini cukup efektif dalam penghantaran karakter. Penonton awam tidak merasa asing dengan karakter Deadpool karena plot yang banyak diisi oleh pengenalan karakter dan kehidupan Wilson sebelum bertransformasi menjadi Deadpool. Namun, ada kekurangan yang sedikit mengganggu cerita. Kekurangan itu adalah kisah cinta Wilson dan Vanessa. Mereka berdua hanya digambarkan sebagai sepasang kekasih yang dimabuk cinta berbalut nafsu, bukan pasangan yang saling mencintai karena perasaan yang tulus. Pasangan Wilson-Vanessa tidak terlihat sebagai pasangan sehidup-semati seperti Habibie dan Ainun. Wilson dan Vanessa  lebih mirip dengan Risty Tagor dan Stuart Collins yang bercerai terlalu cepat, secepat membeli nasi padang di rumah makan minang.


Terlepas dari berbagai kekurangannya, Deadpool termasuk salah satu film yang wajib ditonton bagi penggemar pahlawan super dan sahabat-sahabat super yang setiap minggunya menonton acara motivasi dari pria berkaca mata tanpa rambut di kepala. Keseruan adegan-adegan laga sukses dikombinasikan dengan komedi dan drama yang cukup menghibur. Meski begitu, ada beberapa jenis orang yang tidak dianjurkan untuk menonton Deadpool. Pertama, orang (atau jomlo) yang mudah baper. Karena Wilson dan Vanessa beberapa kali melakukan kegiatan romantis yang berpotensi mengakibatkan baper berkepanjangan bagi penderita baper akut atau lelaki jomlo. Kedua, orang yang sedang diare. Karena beristirahat di atas tempat tidur jauh lebih baik daripada menonton film yang dipenuhi darah bercucuran, tangan yang diamputasi, serta isi kepala yang berhamburan.                                    


Share: 

3/20/2016

Resensi Film Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie (2016)


Funny or Die, perusahaan production house milik Will Ferrel, Adam McKay, dan Chris Henchy, merilis film ketiganya. Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie, judul film tersebut, dibintangi oleh pemeran kelas atas seperti Johnny Depp, Alfred Molina, hingga aktor pendatang baru yang mencuri perhatian lewat Room, Jacob Tremblay. Kenny Loggins yang populer sebagai pengisi original soundtrack film Caddyshack, Top Gun, dan Over the Top didapuk menjadi penyanyi lagu The Art of the Deal yang diciptakan khusus untuk film ini. Melihat jajaran aktor dan musisi yang terlibat dalam produksi Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie, ekspektasi tinggi pantas disematkan pada film karya Jeremy Konner ini.

Sineas kawakan Ron Howard yang bermain sebagai dirinya sendiri menemukan sebuah kaset VHS berisi film yang disutradarai, ditulis dan diperankan oleh Donald Trump (Johnny Depp). Film itu berkisah tentang perjuangan hidup dan tips bisnis dari Trump untuk anak kecil yang tanpa sengaja masuk ke ruang kerjanya. Salah satu perjuangan Trump adalah membeli Taj Mahal Casino dari pengusaha Merv Griffin (Patton Oswalt). Kisah cinta Trump dengan mantan istrinya, Ivana (Michaela Watkins) juga beberapa kali dibahas.



Kisah hidup orang-orang yang sukses di bidang tertentu memang amat menarik untuk difilmkan. Sudah tak terhitung berapa jumlah film yang terinspirasi dari kisah orang sukses. Banyak dari film-film tersebut mengambil tema sedih dan memaksakan filmnya untuk terlihat sedih walau sebenarnya tidak menyedihkan. Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie memberikan warna yang berbeda. Cerita kehidupan Donald Trump tidak dibuat memilukan dan tidak pula menguras air mata. Salah satunya karena Donald Trump sejak kecil tidak pernah jatuh miskin dan hidupnya relatif aman. Tidak seperti Saiful Jamil yang hidupnya penuh hambatan. Nikah-cerai, ditinggal wafat sang istri, menjalin hubungan dengan beberapa perempuan namun selalu kandas, sampai ditangkap polisi akibat membangunkan seorang remaja pria dan mengajaknya sholat subuh dengan cara yang tidak senonoh.

Ada satu kesamaan yang dimiliki Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie dengan Saiful Jamil. Kesamaan itu adalah tidak mulusnya jalan cerita. Film yang ditulis oleh Joe Randazzo ini bukanlah film yang luar biasa, sama seperti Saiful yang tidak luar biasa. Secara pengemasan komedi, Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie sudah cukup maksimal. Hanya sedikit dialog yang masih perlu digali lebih dalam untuk memancing tawa penonton. Kekurangan itu bisa ditutupi oleh dialog dan adegan-adegan lain yang sangat absurd dan jenaka. Salah satunya adegan ketika grup musik The Fat Boys menyanyi bersama Trump. Kalimat yang diucapkan Trump seperti “It’s not a fake estate, it’s a real estate.” Atau “It’s the opposite of mistake. It’s a good stake.” Terdengar cukup absurd tapi tetap berpeluang menghasilkan tawa bagi sebagian penonton.



Selain Donald Trump, banyak tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi bagi para pembuat film. Saiful Jamil bisa jadi salah satu dari tokoh itu. Kehidupannya selalu menginspirasi masyarakat luas agar senantiasa bersyukur. Peristiwa miris sangat sering menimpa Saiful. Banyak manusia di dunia ini yang lebih beruntung dari dia. Sebagian besar masyarakat belum pernah ditahan karena membangunkan seorang remaja. Banyak pula orang yang tidak mengalami kecelakaan hebat di jalan tol dan terenggut pasangan hidupnya. Lebih banyak lagi yang tidak pernah menjadi juri kompetisi murahan.


Mungkin Saiful memang ditakdirkan untuk jadi objek kesialan. Karena orang sial pasti pernah beruntung. Bisa saja ada keberuntungan besar yang akan segera menghampiri Saiful. Dicalonkan sebagai presiden, misalnya. Sama seperti Donald Trump yang kini mencalonkan dirinya. Saya rasa Saiful dan Nassar cocok jika dipasangkan sebagai capres dan cawapres dari Partai Dangdut Indonesia Pergoyangan (PDIP).

Share: 

3/15/2016

American Crime Season 2 Episode 7-10


Episode Seven

Adik Eric mencuri cat semprot dan melakukan vandalisme di sekolah. Taylor babak belur akibat pengeroyokoan yang dilakukan teman satu tim Eric. Dokumen kesehatan Anne bocor di internet. Taylor depresi dan mencuri senjata api di rumah pamannya.

Konflik sudah memasuki titik puncak. Kepadatan cerita jauh lebih baik dibanding episode-episode sebelumnya. Episode Seven memfokuskan diri pada penderitaan Taylor pasca semua tragedi yang menimpanya. Sosok Taylor semakin mengundang simpati penonton. Perilaku setiap karakter mengikat emosi penonton pada sebagian besar adegan.

Episode Seven memberi contoh tentang kengenesan seorang jomlo. Namun, kengenesan itu diakibatkan oleh peristiwa ketika sang tokoh masih berpasangan dengan seseorang. Hanya jomlo sejati yang bisa merasakan penderitaan jomlo lain, karena itulah saya paham betapa sakitnya hati Taylor yang jomlo dan tidak punya kawan yang bisa melindunginya. Adegan ketika Taylor sedang berhalusinasi di tengah hutan menyadarkan para jomlo mengenai pentingnya mencurahkan isi hati pada orang terdekat. Termasuk kepada sesama jomlo. Karena jomlo yang bersatu bisa mengubah dunia.


Episode Eight

Taylor ditahan atas tuduhan penembakan di Leyland. Seluruh anggota tim basket berkabung atas kematian Wes. Putri Dan Sullivan (Sky Azure van Vliet), mengakui perbuatannya dan dihukum oleh sang ayah. Sebastian (Richard Cabral) mendatangi Anne dan menjelaskan maksud kedatangannya.

Tak seperti episode-episode sebelumnya, pada Episode Eight tampak beberapa video wawancara dengan berbagai latar belakang. Keberadaan video itu bertujuan untuk mendukung cerita karena semua narasumbernya adalah orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dalam kasus penembakan di sekolah, bullying, dan kekerasan terhadap minoritas. Namun, video tersebut masih terasa kurang menyatu dengan isi cerita dan membuat penonton kurang bisa menikmati dan merasakan emosi dalam episode kedelapan ini. Walau memiliki kekurangan pada aspek emosi, sebagai episode yang sudah mendekati akhir serial, Episode Eight menawarkan konklusi yang menarik dan tidak monoton.


Bicara soal minoritas, bagi saya, kaum jomlo sudah menjadi minoritas di tengah maraknya muda-mudi yang berpacaran dan menikah. Kini seorang jomlo bagaikan lansia yang sanggup bermain sepak bola selama 90 menit. Sangat sedikit jumlahnya. Bahkan, menurut prediksi saya, jomlo bisa saja punah seperti dinosaurus dan burung dodo. Jika jomlo sudah punah, saya yakin banyak museum yang tertarik untuk menyimpan koleksi yang berbau jomlo. Mie instan, tisu, serta air mata, misalnya. Bahkan, bisa saja ada museum yang mengabadikan fosil jomlo purbakala atau fosil homo jomblonicus.
 
Episode Nine

Sebastian membantu Anne dengan kemampuan teknologinya. Dixon disidang oleh Dinas Pendidikan. Steph Sullivan mendatangi kediaman Anne dan memohon untuk tidak mencatut nama anaknya pada kasus Taylor. Eric Tanner bertemu kembali dengan adik dan ibunya. Kevin bertengkar dengan rekan satu timnya.

American Crime akan memasuki episode pamungkasnya. Sebagian klimaks sudah mulai dimunculkan pada Episode Nine. Salah satunya adalah reaksi Chris Dixon, kepala sekolah negeri tempat Taylor belajar. Selain itu, beberapa masalah sudah sedikit menampakkan titik terang. Emosi penonton kembali digali saat adegan-adegan yang menampilkan setiap karakter dan kesedihannya masing-masing. Ekspresi sebagian besar tokohnya juga tidak terkesan berlebihan dan cukup mengundang simpati bagi penonton.

Episode kesembilan ini banyak membahas perjuangan orang tua yang membela sang anak meskipun anak itu bersalah. Ketika anak mencuri mangga, misalnya. Pasti ada sebagian orang tua yang membela lewat berbagai cara. Pura-pura tidak tahu, pura-pura berubah jadi pohon mangga, bahkan pura-pura berubah jadi mangga. Seperti kata pepatah, batu akik tidak jatuh jauh dari embannya, sesungguhnya sifat anak adalah cerminan sifat orang tua. Jika sang ayah adalah musisi sombong yang kini menjadi wakil walikota dengan Harley Davidson segudang dan cincin akik di sepuluh jari, hampir pasti buah hatinya menjadi pribadi yang sombong pula, dengan cincin akik di sepuluh jari, namun tanpa Harley Davidson karena kakinya masih terlalu pendek untuk menginjak rem motor Harley, kecuali dia mau dan mampu menaiki Harley tanpa menginjak rem. Semoga dia selamat walau tidak mengerem sama sekali.


Episode Ten

Setelah mengudara selama sepuluh pekan atau dua bulan lebih, American Crime musim kedua telah mencapai episode terakhir. Secara keseluruhan, season kedua lebih seru dan lebih “menyentil” dibanding musim pendahulunya. Keluarga, rasisme, kesetiaan, kejujuran, hingga institusi pendidikan dikritisi melalui peceritaan menarik diiringi karakter yang kuat dan naskah tajam.

Taylor memberi keputusan terkait persidangannya. Becca Sullivan, putri Dan Sullivan, ditangkap akibat kasus penjualan narkotika. Sebastian dikagetkan oleh peretas lain. Tante Leslie Graham, tante-tante kepala sekolah Leyland mengalami masa terberat dalam hidupnya. Kevin dipanggil oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.

Sebagai episode penutup, Episode Ten banyak diisi konklusi-konklusi cerita yang tidak terlalu mengejutkan namun tetap menarik untuk diikuti sampai tuntas. Hadirnya tokoh Sebastian terkesan sedikit dipaksakan demi akhir serial yang menakjubkan dan meninggalkan perasaan kurang ikhlas pada penonton. Seperti ketika seorang perempuan berpacaran dengan laki-laki tampan namun tidak tahu nama sang pria, karakter Sebastian mirip dengan peristiwa itu. Penonton hanya mengenal Sebastian pada sepertiga akhir serial tanpa mengenal sosoknya lebih dalam. Sebastian seolah menjadi kunci dari episode terakhir tanpa penokohan yang kuat. Walaupun agak kurang pada karakter Sebastian, episode pamungkas American Crime tetap wajib ditonton karena akhir yang menegangkan sekaligus melegakan seperti permen Stensils pelega tenggorokan.

Seberapa baikkah Anda? Pertanyaan itu memang amat susah untuk dijawab. Saya sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kalau boleh memilih, lebih baik saya diberi tanggung jawab untuk memakan petai dua kilogram setiap hari selama sebulan daripada harus menjawab pertanyaan di atas. American Crime Season 2 mengajak kita untuk merenungkan hidup dan mempertanyakan kebaikan sesama manusia karena terkadang sesuatu yang terlihat baik dari luar sebenarnya tidak baik jika dilihat lebih jeli. Seperti petai dua kilogram yang cukup nikmat tapi tidak baik untuk aroma mulut serta nafas konsumennya.

Share: